Jangan TERGIUR & Waspada dan kenali Monkey Business “Bisnis Monyet” dan “Janda Bolong” Tahun 2020

Netizen, please JANGAN TERGODA dan tergiur profit yang tidak masuk akal MONKEY BUSINESS

Akhir-akhir ini, Fenomena Janda Bolong dan Teori Monkey Business kerap kali Bermunculan dan diperbincangkan di Media Sosial

Monkey business atau dapat diartikan secara harfiah sebagai bisnis monyet.

sebenarnya lebih menitikberatkan pada istilah yang diambil dengan memperlihatkan sikap seekor monyet, ketika hendak sudah mendapatkan keuntungan seperti makanan, kemudian dia akan lari atau kabur.

Monkey business juga dapat diartikan sebagai strategi bisnis yang bertujuan untuk merugikan orang lain (serakah) dengan cara meningkatkan keuntungan bagi diri sendiri dengan metode penipuan (bodong).

Monkey business tergolong atau bisnis kotor (Dirty Business) yang tidak boleh dilakukan oleh para pelaku pengusaha. Pasalnya, hal ini dianggap haram dan sangat berdosa.

Saat ini, tulisan mengenai munculnya Teori Monkey business banyak sekali dibagikan dan diposting ulang oleh netizen, bertujuan untuk mengingatkan sekaligus tindak preventif bahaya yang mungkin mengintai di balik meroketnya sejumlah harga tanaman hias “Monstera Adansonii “dan juga hewan peliharaan lain yang sedang booming saat ini.

Jangan TERGIUR  & Waspada dan kenali Monkey Business "Bisnis Monyet" dan "Janda Bolong" Tahun 2020 1
Tanaman Hias Janda Bolong ” atau Monstera Adansonii

Dikutip dari Tribun Medan .com

Tak sedikit warga yang rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk membeli satu tanaman hias, semisal Monstera Adansonii atau kerap disebut dengan “Janda Bolong”

Namun, Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Wahyu Ario Pratomo menilai, boomingnya tanaman hias ini tak terlepas dari apa yang dikenal dengan monkey bisnis.

Dia pun mewanti-wanti masyarakat yang hanya sekadar ikut-ikutanan, untuk tidak larut dalam euforia sesaat ini.

• Kartika Putri Syok Saat Tahu Harga Tanaman Hias Janda Bolong Capai Rp 90 Juta

Menurut Wahyu, monkey business merupakan bisnis musiman yang menguntungkan kelompok tertentu, yang menebar isu terkait dengan potensi luar biasa atas suatu bisnis yang akan booming.

“Monkey business kerap terjadi, karena ada tren perminatan sekelompok orang tertentu yang menggiring opini masyarakat untuk membeli produk tersebut karena harganya akan terus naik.

Monkey business atau bisnis monyet adalah sebutan untuk sebuah perumpamaan strategi bisnis untuk merugikan orang lain dan menguntungkan diri sendiri.

Sederhananya, begini gambaran soal monkey Business :

Suatu hari di sebuah desa, seorang yang kaya raya mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp. 50,000,- per ekor. Padahal monyet disana sama sekali tak ada harganya karena jumlahnya yang banyak dan kerap dianggap sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan.

Para penduduk desa yang menyadari bahwa banyak monyet disekitar desa

pun kemudian mulai masuk hutan dan menangkapinya satu persatu.

Kemudian si Orang Kaya membeli ribuan ekor monyet dengan harga Rp

50,000,- . Karena penangkapan secara besar-besaran akhirnya

monyet-monyet semakin sulit dicari, penduduk desa pun menghentikan

usahanya untuk menangkapi monyet-monyet tersebut. Maka si Orang Kaya pun sekali lagi kembali untuk mengumumkan akan

membeli monyet dengan harga Rp 100,000 per ekor. Tentu saja hal ini

memberi semangat dan “angin segar” bagi penduduk desa untuk kemudian mulai untuk menangkapi monyet lagi. Tak berapa lama, jumlah monyet pun semakin sedikit dari hari ke hari dan semakin sulit dicari, kemudian penduduk pun kembali ke aktifitas seperti biasanya, yaitu bertani.

Karena monyet kini telah langka, harga monyet pun meroket naik hingga

Rp 150,000,- / ekornya. Tapi tetap saja monyet sudah sangat sulit

dicari. Sekali lagi si Orang Kaya mengumumkan kepada penduduk desa bahwa ia akan membeli monyet dengan harga Rp 500,000,- per ekor!

Namun, karena si Orang Kaya harus pergi ke kota karena urusan bisnis, asisten pribadinya akan menggantikan sementara atas namanya.

Dengan tiada kehadiran si Orang Kaya, si Asisten pun berkata pada

penduduk desa: “Lihatlah monyet-monyet yang ada di kurungan besar yang

dikumpulkan oleh si orang kaya itu. Saya akan menjual monyet-monyet

itu kepada kalian dengan harga Rp 350,000,- / ekor dan saat si Orang

Kaya kembali, kalian bisa menjualnya kembali ke si Orang Kaya dengan

harga Rp 500,000,-

Bagaimana…?”

Akhirnya, penduduk desa pun mengumpulkan uang simpanan mereka, menjual aset bahkan kredit ke bank dan membeli semua monyet yang ada di kurungan.

Namun setelah itu, Mereka tak pernah lagi melihat si Orang Kaya maupun si Asisten di desa itu!

Itulah yang dikatakan orang sebagai  “Monkey Bussiness”

Hati-hati ya teman teman , jangan terjebak “Monkey Business”

Strategi seperti ini biasanya di lengkapi juga dengan propaganda bisnis yang luar biasa dengan cara pameran pameran, seminar seminar dan event besar dengan harga harga yang menggiurkan sehingga masyarakat banyak yang tertarik untuk ikut bermain di dalamnya padahal di event itu aktornya adalah para orang orang kapitalis yang bersandiwara untuk memikat masyarakat banyak.

PERBANYAK LITERASI

Baca juga: Literasi Indonesia Peringkat 72 dari 77 Negera PISA 2018

Jika kalian mengikuti berita dan fenomenya investasi bodong sebelum-sebelumnya, yaitu Alimama dan Jd Union, yang berhasil membawa kabur Milyaran uang warga Indonesia. Pasalnya, sistem yang digunakan adalah sistem PONZI atau Arisan berantai, dimana modus yang digunakan adalah setiap member yang berhasil mengundang member baru akan mendapatkan bonus dengan tingkat profitabilitas yang sangat tinggi. Namun kendala demikian, pada akhirnya hanya orang-orang yang pertama yang mendapatkan keuntungan, sementara yang menjadi korban dengan kerugian yang paling besar adalah mereka member-member baru yang barusan bergabung.

So berhati-berhatilah dan Be smart people

LITERASI MILENIAL

Content Creator, Entrepreneur & Creativepreneur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

DATA COVID-19 di INDONESIA